Kamis, 10 Maret 2011

TIBAR DALAM SEPEKAN

Frans Ing. Bobii
Ka Distrik Tigi Barat (Kab. Deiyai - Papua)
 
Membangun Bersama Rakyat Berlandaskan, Agama, Alam, Adat & Pemerintah

Sebulan Bangun Hubunngan Dengan Masyarakat
DEIYAI- Kepala Distrik Tigi Barat Frans IGN Bobii sebulan terakhir ini melakukan pendekatan dengan berbagai lapisan masyarakat  dengan warga 12  Kampung di wilayahnya. Hal itu ditempuh dengan tujuan memberikan kesadaran akan pentingnya pembangunan. Salah satu adalah membangun hubungan dengan pimpinan agama Katolik, Pastor Paroki Diyai Amandus Pahik,  Pr.

” Para petugas agama sebagai mitra pemerintah, karena itu saya minta dukungan dalam membangunan  Distrik Tigi Barat,”paparnya ketika bertatap muka Sabtu Pekan kemarin di pastoran Diyai.

Menurut Frans, membangun membutuhkan keterlibatan semua pihak berdasarkan profesinya masing-masing.  Jika semua komponen yang berbeda profesi itu   berjuang membangun maka  wajah suatu daerah akan muncul  dipermukaan. Upaya akan membangun sesungguhnya adalah memberikan sumbangsi pemikiran dan karya nyata dalam mewujudkan perubahan. “karena itu Umat Katolik harus bersatu memberikan dukungan kepada pemerintah setempat,”harapnya.

Sementara itu Pastor Paroki berpandangan bahwa, gereja sesungguhnya adalah mitra pemerintah yang dilupakan selama ini. Dalam gereja itu satu kesatuan manusia yang kini menantikan suatu perhatian dalam merubah. Namun kenyataanya kini tidak terkesan melupakan.” Hal itu bukan persoalan bagi gereja dalam menapaki kondisi perubahan yang kini menimpa umat katolik, akan tetapi gereja terus berupaya mengembalikan umat pada posisinya,”ungkapnyaketika itu.

Kata Pater  yang menekuni bidang pendidikan itu mengutarakan, untuk membangun umat tidak bisa hanya oleh pemerintah ataupun pihak gereja, akan tetapi memerlukan tali persaudaraan antar kedua lembaga itu. Agar memberikan pelayanan yang memampukan umat untuk menadah perubahan yang kini mengancam eksistensi umat itu,”urainya.

Umat GKIP Siap Mendukung Program Pemerintah Distrik
Ketua Klasis GKIP  Tigi Barat Yulianus Giyai meminta kepada Jemaatnya agar  ikut serta dalam dinamika pembangunan yang di galakkan pemerintah Kabupaten Deiyai lebih khusus lagi pemerintah Distrik.
 “Pemerintah yang terdekat dengan jemaat adalah Pemerintah Distrik. Seluruh persoalan yang dihadapi oleh masyarakat yang lebih memahami adalah pemerintah distrik,” ungkapnya menanggapi kehadiran Kepala Distrik Tigi Barat di Kediamannya di Onago pekan kemarin.

Penyaluran  Raskin Melalui  Gereja
DEIYAI- Pemerintah  Distrik Tigi Barat Kabupaten Deiyai mempercayakan   dua denominasi gereja yang ada di wilayah Tigi Barat untuk menyalurkan beras miskin (raskin).  Gereja tidak sekedar menyalurkan beras raskin akan tetapi  agar menghidupkan ekonomi  masyarakat. Hal itu merupakan kesepakatan bersama semua komponen masyarakat di wilayah itu.” Selama ini dalam  penyaluran Beras Miskin tidak mengena sasaran, sebab sejumlah hal teknis  tidak diperhatikan,”ujarnya  kepada Media ini kemarin.

Menurut Frans   tujuan ini untuk menghidupkan ekonomi. Caranya oleh gereja membeli beras miskin dengan hal jual di perum Bulog  Dolog di Nabire sedang untuk menjual kepada masyarakat hanya naikkan 400 ratus perkilogram dari harga semua. Keuntungan dari per kilo diperuntukkan guna meningkatkan pembangunan gereja dalam segala aspek. “ bersama para kepala kampung, pemimpin agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh perempuan, dan kaulah muda sudah disepakati bahkan seluruh lapisan masyarakat  yang  berdomisili di 12 Kampung,”paparnya.

 Perkembangan jaman ia mengungkapkan, telah menuntut kita agar bersaing dengan   era perubahan. “pikiran ini merupakan program memang sudah lama di rancang agar dengan beras miskin ini masyarakat bisa berusaha untuk meningkatkan ekonomi mereka. Tidak hanya kepada gereja akan tetapi juga kepada kelompok  lain yang memiliki badan hokum semisalnya, kelompok usaha  lain  juga menjadi sasaran Raskin. Daripada  uang lari membeli beras dipusat kota misalnya di Waghete, Enarotali, dan juga di Nabire dengan harga yang mahal,”tuturnya. 

Saya menurutnya demi kepentingan rakyat harus  mencari akal agar mendorong masyarakat supaya  mereka menghidupkan diri dan sesame yang lain  melalui hasil usaha mereka.

 100 Juta Tidak Cukup Bangun  Kampung di Pelosok Pedalaman
DEIYAI-   12 kepala Kampung Distrik Tigi Barat Kabupaten Deiyai menilai  dengan dana 100 juta yang terakomodir dalam program Turun Kampung ( Turkam)  yang dirangkum dengan program Nasional PNPM-Mandiri. Sebab  wilayah Distrik Tigi Barat sangat luas dengan tingkat kondisi wilayah yang sangat memperihatinkan. “ kabupaten lain `mendapat `dana lebih dari 100 juta sedangkan kami Kabupaten Paniai lama ( Deiyai, Intan Jaya) hanya mendapat 100 Juta saja,” ujar Marselus Badii Kepala Kampung Piyakedimi Distrik Tigi Barat Kabupaten Deiyai  dalam pertemuan  yang di gelar di aula distrik belum lama ini.

Sebaiknya kata Marselus dalam pembagian dana pemerintah kabupaten Paniai lama mesti memperhatikan. Sebab dana 100 juta itu kami pikir hanya dari Provinsi, sedangkan dana dari pusat maupun Kabupaten belum tersalur kepada masyarakat melalui program nasional itu. Hingga tahun kedua, menurutnya 12 kampung mendapatkan 100 juta saja.

Senada juga dilontarkan kepala Kampung Wagomani Ruben Waine apakah Pemerintah Kabupaten Paniai apatis terhadap program itu atau dengan sengajah dilakukan demikian ?.
seratus juta yang diperuntukkan bagi setiap kampung di Kabupaten  juga di Kabupaten Deiyai tidak cukup untuk membangun lima aspek yang terangkum dalam program Respek. Apa lagi pencairan  bertahap dua tahapan.  Oleh karena itu jika dana itu dicairkan untuk Kampung-kampung di wilayah Distrik Tigi Barat akan di perioritaskan hanya satu bidang saja dari lima bidang yang dicanangkan oleh pemerintah.

Nada harapan juga dilontarkannya, Program turun kampung dengan bantuan dana itu sangat memberikan peluang dalam membangun masyarakat yang selama  ini terkesan terbelakang oleh pembangunan. “Namun yang harus diperhatikan sekarang adalah perimbangan dalam pembagian dana itu,”urai Yeheskiel Kotouki kepala Kampung Diyai dalam pertemuan itu

Lebih jauh Kotouki menambahkan,  dana yang di berikan itu sangat menentu kepada masyarakat untuk memperbaiki dan membangun lima bidang itu (pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, infrastruktur, dan pemberdayaan perempuan), jika ada penambahan dana dari kabupaten sesuai amanat otonomi Khusus.  

Menanggapi harapan para kepala kampung itu, Kepala Distrik Tigi Barat Frans IGN  Bobii mengharapkan kepada pemerintah, untuk membagi dana mesti membedakan sebab hampir semua kampung berada di pelosok Papua dengan tingkat ekonomi yang tinggi. “Karena itu tidak boleh sama ratakan dengan  kampung-kampung yang ada di pedalaman  dengan kampung-kampung yang ada di  per-kotaan.

Pendidikan Memperihatinkan Mesti  Cari Format Baru
DEIYAI-  Untuk Memperbaiki kondisi pendidikan yang semakin merosot, diharapkan seluruh komponen bersatu untuk mencari formula baru guna membangkitkan kondisi pendidikan yang mulai pudar itu. Kemajuan jaman modernisasi ternyata  tidak memberikan suatu prubahan dalam dunia pendidikan akan tetapi yang terjadi adalah semakin memudarnya semangat juang dalam menghidupkannya. Hal itu terungkap dalam pertemuan bersama pemerintah distrik dengan para kepala sekolah, Dewan guru serta staf sekolah Dasar (SD) Se-distrik Tigi Barat yang digelar di Aula Distrik  Tigi Barat Senin Pekan ini.

Pengawas Tk SD Se-Distrik Tigi Barat Thadeus Douw, menjelaskan,  semakin memburuknya kondisi itu disebabkan oleh sejumlah factor yang terkesan tak akan terselesaikan dalam waktu singkat. Sebab kondisi itu diparah oleh kesadaran para guru yang semakin mundur dari tugas utama sebagai pengajar. Selain itu para guru kebanyakan pinda profesi  di berbagai profesi. Factor ekxternal dari pemerintah adalah apatisme para pejabat di teras instansi terkait ( Dinas Pendidikan dan pengajaran) yang kurang memberikan perhatian dalam kepengurusan nasib (kenaikan pangkat, jatah beras).
“ketidakberesan hal-hal ini  menyebabkan para pendidikan lari meninggalkan tempat tugas untuk mengurusinya diibukota Kabupaten,”papar Thadeus Douw dihadapan puluhan guru.

Sementara itu kepala Sekolah YPPK Yinidoba, Martinus Tekege, menilai di wilayah  Tigi Barat ada sekolah yang dibangun hanya dengan swadaya masyarakat. Sejak tahun 1960 SD YPPK Yinidoba didirikan oleh Yayasan Katolik bersama umat setempat akan tetapi hingga saat ini belum diperhatikan oleh pemerintah. Walaupun ada dana Bos akan tetapi dana itu terbagi habis dalam membiayai kesejahteraan sekolah dan anak-anak sekolah. Gedung yang ada hanya merupakan upaya umat Katolik stasi  Yinidoba.

Lukas Ukago guru SD YPPK Ayatei membanding pola pendidikan masa sekarang dan pendidikan masa lalu. Dirinya mengemukakan, dulu para guru melaksanakan tugas dengan penuh kesadaran sebab seluruh kebutuhan para guru dilayani dengan baik tanpa membedakan latar belakang oleh pemerintah.  Sebab itu pemerintah harus mengunakan sistim lama. Jika tidak maka harus mencari pola/formula baru dalam membangun kembali pendidikan yang semakin mundur itu. “saya tidak yakin jika pendidikan akan maju dengan kondisi yang sedang berjalan ini,  karena itu pemerintah harus mencari cara baru,” katanya seraya membayangkan  pendidikan masa lalu.

Senada juga dilontarkan kepala SD YPPK Ayatei Frans Bobii, mengemukakan, hamper semua SD yang ada di wilayah Tigi Barat mengalami kekurangan tenaga pendidikan. Setiap sekolah ada guru honor tetapi mereka kebanyakan  tamatan SMA/SMP/bahkan tamatan SD. “ hal ini sangat men jijitkan  jika hal itu terus terjadi di wilayah ini, masa depan anak-anak  tidak akan merubah dan akan berjalan di tempat,”ungkapnya.

Untuk menghidupkan pendidikan  Matias Douw kepala SD YPPK Diyai menuturkan, para honor yang ada ini pemerintah harus      mengkat mereka menjadi status PNS. Dan selanjutnya mereka harus mengikuti penyetaraan Diploma II.  Sependapat dengan Thomas Douw Guru SD Inpres Pudu, bahwa sebaiknya pemerintah  membangun tempat memproduk guru semisal KPG, PGSD kelas pararel ( kelas jauh) kerjasama dengan salah satu perguruan tinggi dengan pemerintah Kabupaten Deiyai.

==Liputan Khusus oleh : CHESCHO GIYAI selama sepekan perjalanan dinas Bersama Ka. Distrik Tigi Barat, Kab. Deiyai - Papua==

Tidak ada komentar: