Selasa, 15 Maret 2011

DARI PANIAI MENUJU DEIYAI

Blasius Pakage Siapkan Jalan Menuju Kemandirian Deiyai”
oleh : Giyai F. Chess

Paniai, diresmikan menjadi kabupaten administratif oktober 1996, berdasarkan UU No.45 Tahun 1999. bersamaan dengan Provinsi Irian Jaya Barat, Provinsi Irian irian Tengah, dan tiga kabupaten Kabupaten Paniai, kabupaten Mimika, Puncak Jaya dan Kotamadya Sorong. Terhitung sejak itu 1996-2009 masih berumur jagung.

Kabupaten Paniai sebelum dimekarkan memiliki 3 wilayah pembangunan, yakni wilayah pembangunan I meliputih sekitar danau Paniai, wilayah pembangunan II meliputih lima distrik di sekitar danau tigi yang kini menjadi kabupaten Deiyai. Wilayah pembangunan III meliputih 6 distrik wilayah Moni yang kini menjadi kabupaten Intan Jaya.

Katanya mantan asisten tata praja setda Paniai itu, derak gerak selama selama 14 tahun berjalan kabupaten paniai terkesan mengalami perubahan yang sangat signifikan dalam merubah wajah kabupaten yang memiliki tingkat kesulitan medan yang tinggi. Dengan tingkat jangkauan pemerintahan itu pemda kabupaten Paniai berjuang. ‘wajar kalau banyak orang mengintrepretasikan bahwa Paniai mengalami kemunduran, tapi mesti dipahami bahwa pembangunan tidak bisa dilihat dalam satu-dua tahun,”paparnya.

Berbagai gejolak medan menjadi hambatan dan kesulitan dalam memajukan daerah itu. Jika ditinjau dari aspek perkembangan pemerintah kabupaten Paniai sudah ada sejak jaman Belanda ( afdeling) yang berpusat di Tigi dan Enarotali. Paling tidak masyarakat telah mengetahui pentingnya kehadiran pemerintah. Tentunya bagi masyarakat Paniai lama ( Intan Jaya dan Deiyai) mengenal bahwa kehadiran pemerintah akan memperpendek rentang kendali pemerintah.

wilayah Deiyai memiliki keunikan dan tipologi yang tidak sama dengan masyarakat wilayah lain. Masyarakat Tigi masih lugu menganut nilai-nilai adat dan agama. masyarakat itu sebelumnya memiliki filosofi budaya yang identik dengan ajaran agama. sehingga seluruh irama hidup mereka lebih pada tetua-tetua agama dan adat.

Mencermati pola hidup demikian, pemekaran akan mengoncangkan pandangan hidup itu dan akan bertolak belakang dengan pandangan hidup yang telah lama dianut. Masyarakat itu akan mengalami trasisi hidup jika para pemimpin dari semua KSPD itu mengadopsi pandangan hidup luar melalui program pembangunan untuk diterapkan dalam pelayanan masyarakat wilayah pemekaran itu.

Kehadiran misionaris sejak 1932 di Paniai Tigi menandakan bahwa manusia yang ada di sana dipagari dengan kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kedamaian. Kedatangan pekabar injil ditanah Paniai hanya meng-iakan atas ajaran –ajaran ada disana. Berangkat dari pemahan dimaksud, maka Paniai dan dan dua wilayah pemekaran mesti dibangun dengan konsep atau pendekatan budaya dan agama.

Setelah menyimak perjalanan dan derap langkah perkembangan yang digalakkan selama ini pemerintah selalu di hadapkan pada kesulitan jangkau yang berbuntut pada penilaian yang buruk dialamatkan kepada pemerintah kabupaten. Sejak pemekaran (1996) banyak indikasi bahwa pemerintah tidak berhasil dalam membangun daerah ini. Namun mesti dipahami bahwa berbagai faktor pendukung yang kurang memadai.

Solusi yang ditempuh oleh pemerintah kabupaten untuk mengoptimalkan pembangunan adalah melalui pemekaran. Wilayah kabupaten Deiyai tidak mengalami tingkat kesulitan dalam memajukan dan melayani masyarakat yang ada di kabupaten Deiyai.

Siapkan Deiyai
Penjabat bupati Deiyai memiliki tiga tugas selama setahun akan berjalan. Sejak dilantik sebagai penjabat oleh negara melalui Mendagri memberikan kepercayaan guna menakodai Deiyai dengan tiga tugas utama yakni, membentuk kelembagaan birokrasi, mempersiapkan insfrastruktur, dan membentuk lembaga KPU. Rasanya tiga tugas ini tidak akan terselesaikan jika tidak didukung oleh semua komponen masyarakat yang ada di wilayah itu. “ saya mempersiapkan jalan menuju kemandirian Deiyai ke depan,”ujarnya seraya membayangkan kondisi wilayah Tigi.

Blasius yang juga mantan Kabiro pembinaan Moral dan spritual Provinsi Papua itu menandaskan, bahwasanya pembangunan di wilayah Deiyai mesti keterlibatan semua komponen, dalam meletakkan dasar-dasar pembangunan. Jika tidak ditopang oleh masyarakat maka pembangunan akan sia-sia, sebab pada perinsipnya masyarakat sebagai subyek yang diperintah oleh pemerintah sebagai fasilitator dengan konsekuensinya adalah memberikan ruang dalam pembangunan agar mereka berparsitipasi dalam membangun dan memajukan daerah bersama bergandengan tangan untuk menyambut kabupaten Denitif.

Secara pemerintahan ungkap Penjabat bupati Deiyai juga mantan kepala Distrik Bade itu kabupaten Deiyai, terdiri dari lima distrik, yakni distrik Tigi, distrik Tigi Timur, distrik Kapiraya, distrik Tigi Barat, distrik Bouwobado, katanya, lima distrik itu yang sulit dijangkau adalah distrik Kapiraya dan Bouwobado, sedangkan tiga distrik lainnya, Tigi barat, Tigi dan Tigi Timur mudah dalam mengakses pembangunan sebab berada pada posisi jalur transportasi yang tidak sulit, baik jalur udara dan juga jalur transportasi darat.

Membangun Atas Dasar Agama dan Budaya
masyarakat Wilayah Deiyai ( Tigi) menerima agama sejak tahun 1932, Pater Tillemans menginjakkan kaki saat itulah masyarakat telah menyatuhkan hidup mereka dengan pandangan dan ajaran. Sebab dilandasi oleh nilai-nilai luhur budaya sangat identik dengan firman Tuhan. Antara dua ajaran ini memiliki keterkaitan. Oleh sebab itu dalam filosofi hidup manusia Mee yang berdiam disekitar danau Tigi dan sepanjang kali Yawei itu menganut pandangan hidup yang tidak bisa lepas dari dua konsep hidup itu.

Ternyata nilai-nilai luhur agama dan budaya oleh penjabat Bupati Deiyai Drs. Blasius Pakage, dijadikan sebagai suatu landasan untuk mengacu pembangunan di wilayah Deiyai (Tigi). “Saya mengajak kita semua membangun Deiyai dengan berlandaskan nilai-nilai agama dan budaya,”pungkasnya dengan nada optimis.

Mencermati kondisi masyarakat Deiyai (Tigi) yang memiliki falsafa hidup demikian, maka pola hidup masyarakat pun ikut terbentuk dengan tradisi yang amat kuat sebab kondisi daerah yang dipagari oleh sejumlah lereng bukit dan gunung itu secara alamiah mengumpulkan manusia Mee yang berdiam itu Tigi dalam satu kesatuan yang utuh dan bulat sehingga kekerabatn hidup mereka sangat solit dalam mempertahankan eksistensinya sebagai manusia Mee.

untuk itulah Pakage mencanangkan program Pertanian, perikanan, peternakan, dan perindustrian serta pendidikan (P4) sebagai program pembangunan dalam memajukan wilayah itu. Gaya hidup masyarakat deiyai dalam mempertahankan hidupnya selalu bertalak dari perkebunan, pertanian, perikanan, dan perindustrian. Masyarakat lebih cepat berkembangan jika potensi yang dimiliki itu difasilitasi oleh pemerintah daerah Deiyai. “karenanya saya lebih serius mengembangkan potensi masyarakat yang sudah ditekuni sejak lama,”tandasnya.

Pada akhir acara Selain nama baptis, penjabat bupati Deiyai juga diberikan nama adat yakni, Drs. Blasius Gaai douby Pakage. Acara inisiasi tersebut dilakukan guna mengakui pemimpinnya mereka yang dalam pelayanan lebih mendekatkan diri kepada masyarakat. Sebelum Pengakuan sebagai anak adat para penari adat juga melakukan sejumlah inisiasi lain yang di sejumlah tempat.

== Giyai Chescho == Penulis adalah anak adat putra deiyai.

Tidak ada komentar: